PERTEMUAN KE 3
PRINSIP DASAR MULTIMEDIA PEMBELAJARAN
Rosch menyatakan bahwa
multimedia adalah kombinasi dari komputer dan video. Sementara Mc. Cormick
mendefinisikan multimedia sebagai kombinasi dari tiga elemen, yaitu suara,
gambar, dan teks. Robin & Linda mengartikan multimedia sebagai alat yang
dapat menciptkakan presentasi yang dinamis dan interaktif yang mengkombinasikan
teks, grafik, animasi, auido, dan gambar video (Suyanto, 2003: 5).
Prinsip-prinsip dasar media pembelajaran
merujuk pada pertimbangan seorang guru dalam memilih dan menggunakan media
pembelajaran untuk digunakan atau dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar.
Hal ini disebabkan adanya beraneka ragam media yang dapat digunakan atau
dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Richard
E. Mayer (2001) menunjukan bahwa anak didik kita memiliki potensi belajar yang
berbeda-beda. Kini dunia pendidikan makin maju, dapatkah modalitas belajar
siswa yang berbeda-beda ini dibawa dalam sebuah teknologi Multimedia? Menurut
Mayer ada 12 prinsip desain multimedia pembelajaran yang dapat diterapkan di
Pembelajaran.
12 Prinsip Merancang
Multimedia Pembelajaran, yaitu :
1) Prinsip
Multimedia
Orang belajar lebih baik
dari gambar dan kata dari pada sekedar kata-kata saja. Karena dinamakan
multimedia berarti wajib mampu mengkombinasikan berbagai media (teks, gambar,
grafik, audio/narasi, video, animasi, simulasi, dll) menjadi satu kesatuan yang
harmonis. Sebab kalau tidak namanya bukan multimedia tapi single-media.
2) Prinsip
Kesinambungan Spasial
Orang belajar lebih baik
ketika kata dan gambar terkait disandingkan berdekatan dibandingkan apabila
disandingkan berjauhan atau terpisah. Oleh karena itu, ketika ada gambar (or
sodarenye nyang laen seperti video, animasi, dll) yang dilengkapi dengan teks,
maka teks tersebut harus merupakan jadi satu kesatuan dari gambar tersebut,
jangan menjadi sesuatu yang terpisah.
3) Prinsip
Kesinambungan Waktu
Orang belajar lebih baik
ketika kata dan gambar terkait disajikan secara simultan dibandingkan apabila
disajikan bergantian atau setelahnya. Nah, ketika Anda ingin memunculkan suatu
gambar dan atau animasi atau yang lain beserta teks, misalnya, sebaiknya
munculkan secara bersamaan alias simultan. Jangan satu-satu, sebab akan
memberikan kesan terpisah atau tidak terkait satu sama lain. Begitu kata Mayer.
4) Prinsip
Koherensi
Orang belajar lebih baik
ketika kata-kata, gambar, suara, video, animasi yang tidak perlu dan tidak
relevan tidak digunakan. Nah, ini yang sering terjadi. Banyak sekali pengembang
media mencantumkan sesuatu yang tidak perlu. Mungkin maksudnya untuk
mempercantik tampilan, memperindah suasana atau menarik perhatian mata. Tapi,
menurut Mayer, hal ini sebaiknya dihindari. Cantumkan saja apa yang perlu dan
relevan dengan apa yang disajikan. Jangan macam-macam.
5) Prinsip
Modalitas Belajar
Orang belajar lebih baik
dari animasi dan narasi termasuk video), daripada dari animasi plus teks pada
layar. Jadi, lebih baik animasi atau video plus narasi daripada sudah ada
narasi ditambah pula dengan teks yang panjang. Hal ini, sangat mengganggu.
6) Prinsip Redudansi
Orang belajar lebih baik
dari animasi dan narasi termasuk video), daripada dari animasi, narasi plus
teks pada layar (redundan). Sama dengan prinsip di atas. Jangan redudansi,
kalau sudah diwakili oleh narasi dan gambar/animasi, janganlah tumpang tindih
pula dengan teks yang panjang.
7) Prinsip Personalisasi
Orang belajar lebih baik
dari teks atau kata-kata yang bersifat komunikatif (conversational) daripada
kalimat yang lebih bersifat formal. Lebih baik menggunakan kata-kata
lugas dan enak daripada bahasa teoritis, oleh karena itu, sebaiknya
gunakan bahasa yang komunikatif dan sedikit ber-style.
8) Prinsip Interaktivitas
Orang belajar lebih baik
ketika ia dapat mengendalikan sendiri apa yang sedang dipelajarinya
(manipulatif: simulasi, game, branching). Sebenarnya, orang belajar itu tidak
selalu linier alias urut satu persatu. Dalam kenyataannya lebih banyak loncat dari
satu hal ke hal lain. Oleh karena itu, multimedia pembelajaran harus
memungkinkan user/pengguna dapat mengendalikan penggunaan daripada media itu
sendiri. dengan kata lain, lebih manipulatif (dalam arti dapat dikendalikan
sendiri oleh user) akan lebih baik. Simulasi, branching, game, navigasi yang
konsisten dan jelas, bahasa yang komunikatif, dan lain-lain akan memungkinkan
tingkat interaktivitas makin tinggi.
9) Prinsip Sinyal
Orang belajar lebih baik
ketika kata-kata, diikuti dengan cue, highlight, penekanan yang relevan
terhadap apa yang disajikan. Kita bisa memanfaatkan warna, animasi dan
lain-lain untuk menunjukkan penekanan, highlight atau pusat perhatian (focus of
interest). Karena itu kombinasi penggunaan media yang relevan sangat penting
sebagai isyarat atau kata keterangan yag memperkenalkan sesuatu.
10) Prinsip Perbedaan Individu
9 prinsip tersebut
berpengaruh kuat bagi mereka yang memiliki modalitas visual tinggi, kurang
berpengaruh bagi yang sebaliknya. Kombinasi teks dan narasi plus visual
berpengaruh kuat bagi mereka yang memiliki modalitas auditori tinggi, kurang
berpengaruh bagi yang sebaliknya. Kombinasi teks, visual dan simulasi
berpengaruh kuat bagi mereka yang memiliki modalitas kinestetik tinggi, kurang
berpengaruh bagi yang sebaliknya.
11) Prinsip
Praktek
Interaksi adalah hal
terbaik untuk belajar,kerja praktek dalam memecahkan masalah dapat meningkatkan
cara belajar dan pemahaman yang lebih mendalam tentang materi yang sedang
dipelajari.
12) Pengandaian
Menjelaskan materi dengan
audio meningkatkan belajar. Siswa belajar lebih baik dari animasi dan
narasi, daripada dari animasi dan teks pada layar.
Kesimpulannya penggunaan multimedia (kombinasi
antara teks, gambar, grafik, audio/narasi, animasi, simulasi, video) secara
efektif untuk mengakomodir perbedaan modalitas belajar
DAFTAR PUSTAKA
Suyanto, M. 2003. Multimedia alat untuk meningkatkan keunggulan
bersaing.
Jakarta : Andi
Jakarta : Andi
https://hcfelany.wordpress.com/2014/05/20/prinsip-prinsip-multimedia-pembelajaran/
bisakah anda berikan contoh media dengan memperhatikan salah satu dari prinsip diatas serta alasan anda memilih media tersebut?
BalasHapusjelaskan menurut anda Multimedia yang seperti apa yang cocok digunakan dalam pembelajaran di indonesia ?
BalasHapusBerdasarkan ketersediaannya media dapat dikelompokkan menjadi Media Jadi (Media By Utilization) dan Media Rancangan (Media By Design) alasan utama seseorang menggunakan media adalah media dapat berbuat lebih dari biasa yang dilakukan. Pemilihan media dilakukan agar penggunaan media dapat mencapai tujuan pembelajaran, maka haruslah dipilih media pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Karna tujuan pembelajaran di indonesia pasti berbeda-beda harus disesuaikan dengan materinya, sehingga kita tidak bisa menetapkan media pembelajaran apa yang cocok untuk semua materi, hal tersebut harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran tadi.
HapusPada kesimpulan anda, penggunaan multimedia lebih efektif dalam mengatasi perbedaan gaya belajar, dapatkah anda jelaskan mengapa bisa demikian?
BalasHapussangat penting untuk mengetahui apa yang berlangsung dalam kepala murid mereka. Perlu juga mengetahui perlakuan apa yang mereka butuhkan. Pengetahuan guru tentang gaya belajar membantu para guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang multi-indrawi, yang melayani sebaik mungkin kebutuhan individual setiap siswa. Dengan memanfaatkan konsep keragaman dan menerima gaya belajar yang berbeda. Para guru menjadi lebih efektif dalam menentukan strategi-strategi pengajaran, dan murid akan belajar dengan lebih percaya diri dan lebih puas dengan kemajuan belajar mereka.
HapusAdapun cara untuk mengetahui gaya belajar siswa:
1. Siswa dengan gaya belajar visual
Memutar film, menunjukkan gambar atau poster, dan juga menunjukkan peta ataupun diagram. Dengan proses belajar mengajar seperti ini, kita bisa melihat para siswa yang mempunyai kecenderungan belajar secara visual akan lebih tertarik dan antusias.
2. Siswa dengan gaya belajar auditori
Gunakan metode ceramah secara umum, catatlah siswa-siswa yang mendengarkan dengan tekun hingga akhir. Perhatikan siswa-siswa yang “kuat” bertahan berapa lama dalam mendengar. Klasifikasikan mereka sementara dalam golongan orang-orang yang bukan tipe pembelajar yang cenderung mendengarkan. Dari sini kita bisa mengklasifikasikan secara sederhana tipe-tipe siswa dengan model-model pembelajar auditori yang lebih menonjo
3. Siswa dengan gaya belajar kinestetik
Dengan metode pembelajaran menggunakan praktek atau simulasi. Para pembelajar kinestetik tentu saja akan sangat antusias dengan model belajar mengajar semacam ini. Begitu seterusnya kita melihat bagaimana reaksi siswa terhadap setiap model pembelajaran sehingga lambat laun kita akan lebih mudah memahami dan mengetahui kecenderungan gaya belajar yang mereka.
sedikit menambahkan Penggunaan alat pemusat perhatian dalam media pembelajaran dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta didik untuk fokus terhadap materi pelajaran. Hal ini membantu konsentrasi peserta didik dalam memahami isi pelajaran sehingga penguasaan mereka menjadi lebih baik.
BalasHapusInformasi atau keterampilan baru jarang sekali dapat dikuasai secara maksimal hanya dengan satu kali proses belajar. Agar penguasaan terhadap informasi atau keterampilan baru tersebut dapat lebih optimal, maka perlu dilakukan bebrapa kali pengulangan. Prinsip pengulangan ini harus diperhatikan dalam mengembangkan media pembelajaran.
Proses belajar mengajar akan lebih berhasil manakala terjadi interaksi dua arah antara pengajar dan peserta didik. Partisipasi aktif peserta didik dalam pembelajaran dapat meningkatkan pemahaman dan penguasaan materi pelajaran. Oleh karena itu media pembelajaran yang digunakan hendaknya mampu menimbulkan keterlibatan peserta didik secara aktif (interaktif) dalam proses belajar
Umpan balik yang diberikan oleh pengajar secara tepat dapat menjadi pendorong bagi peserta didik untuk selalu meningkatkan prestasinya. Untuk itu, pengajar harus memberikan respon umpan balik secara berkala terhadap kemajuan belajar peserta didik (Abdul Gafur, 2007: 20).
jelaskan mengapa prinsip pengandaian itu perlu mencakup pada prinsip-prinsip media pembelajaran?
BalasHapusKarena pada prinsip itu dijelaskan bagimana pemilihan media yang baik untuk pembelajaran. Prinsip-prinsip agar penggunaan media pembelajaran mencapai hasil yang baik adalah sebagai berikut:
Hapusa) Menentukan jenis media dengan tepat; artinya, sebaiknya guru memilih terlebih dahulu media manakah yang sesuai dengan tujuan dan bahan pelajaran yang akan diajarkan.
b) Menetapkan atau memperhitungkan subjek dengan tepat; artinya, perlu diperhitungkan apakah penggunaan media itu sesuai dengan tingkat kematangan/kemampuan anak didik.
c) Menyajikan media dengan tepat; artinya, teknik dan metode penggunaan media dalam pembelajaranharuslah disesuaikan dengan tujuan , bahan metode, dan sarana yanga ada.
d) Menempatkan atau memperlihatkan media pada waktu, tempat dan situasi yang tepat. Artinya, kapan dan dalam situasi mana pada waktu mengajar media digunakan. Tentu tidak setiap saat atau selama proses belajar mengajar terus menerus memperlihatkan atau menjelaskan sesuatu dengan media pengajaran.
Apakah prinsip-prinsip ini harus berjalan seluruhnya?
BalasHapusTentu saja, jika tidak pasti penerapan media pembelajaran ini akan tidak sempurna, karena dengan prinsip ini bisa mengacu agar bisa membuat media yang baik dan sesuai untuk peserta didik
Hapusmenurut anda prinsip mana yang paling sulit untuk diterapkan?
BalasHapusMenurut saya prinsip sinyal, karena kita harus memancing pemikiran siswa, membuka pikiran mereka dengan memberikan klu agar mereka bisa berpikir kreatif dan bisa mengikuti oembelajarm dengan benar
Hapusjika salah satu prinsip diatas tidak terpenuhi apakah masih dapat dikatakan multimedia pembelajaran? jelaskan!
BalasHapusSelama prinsipbyang tidak dilakukan tidak terlalu memgganggu proses pembuatan media, masih bisa dibilang media pembelajaran walaupun tidak sempurna
Hapusmenurut saya masih dikatakan multimedia hanya saja pada tahapan atau pun pelaksanaannya kurang efisien karena kompenen penyususn nya tidak lengkap apa lagi ini berkenan dengan suatu prinsip. terimakasih
HapusMateri pelajaran kimia apa yang cocok berdasarkan prinsip modalitas belajar?
BalasHapusPrinsip kodalotas menjelaskan orang lebih mudah belajar dengan video dengan narasi yang tidak bertele-tele, sehingga materi yang menurut kita bisa di buat video itu bisa di gunakan, misalnya saja tentang koloid, asam basa dll
HapusSedikit menambahkan:
BalasHapusAde Cahyana dan Devi Munandar (2008) memberikan definisi teknologi multimedia sebagai perpaduan dari teknologi komputer baik perangkat keras maupun perangkat lunak dengan teknologi elektronik. Menurut keduanya sekarang ini perkembangan serta pemanfaatan teknologi multimedia banyak digunakan hampir di seluruh aspek kegiatan.
Dalam buku yang berjudul ”The Developers Handbook to Interaktive Multimedia”, Rob Philip (1997: 8) menjelaskan :
”The term ‘multimedia’ is a catch-all phrase to describe the new wave of computer software that primarily deals with the provisions of information. The ’multimedia’ component is characterized by the presence of text, picture, sound, animation and video; some or all wich are organized into some coherence program. The ‘interactive’ component refers to the process of empowering the user to control the environment usually by a computer.”
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa multimedia merupakan perpaduan dari beberapa elemen informasi yang dapat berupa teks, gambar, suara, animasi, dan video. Program multimedia biasanya bersifat interaktif.
Sedikit menambahkan.
BalasHapusBerdasarkan kondisi internal dan eksternal, Gagne menjelaskan bagaimana proses belajar itu terjadi. Model proses belajar yang dikembangkan oleh Gagne didasarkan pada teori pemrosesan informasi, yaitu sebagai berikut :
1. Rangsangan yang diterima panca indera akan disalurkan ke pusat syaraf dan diproses sebagai informasi.
2. Informasi dipilih secara selektif, ada yang dibuang, ada yang disimpan dalam memori jangka pendek, dan ada yang disimpan dalam memori jangka panjang.
3. Memori-memori ini tercampur dengan memori yang telah ada sebelumnya, dan dapat diungkap kembali setelah dilakukan pengolahan.
Seperangkat proses yang bersifat internal yang dimaksud oleh Gagne adalah kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan terjadinya proses kognitif dalam diri individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Teori pemrosesan informasi bermula dari asumsi bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan salah satu hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut teori ini, belajar merupakan proses mengelola informasi, namun teori ini menganggap sisitem informasi yang diproses yang nantinya akan dipelajari siswa adalah yang lebih penting. Karena informasi inilah yang akan menentukan proses dan bagaimana proses belajar akan berlangsung akan sangat oleh sistem informasi yang dipelajari.
Robert Gagne seorang ahli psikologi pendidikan mengembangkan teori belajar yang mencapai kulminasinya (titik uncak) pada “The Condition of Learning”. Banyak gagasan Gagne tentang teori belajar, seperti belajar konsep dan model pemrosesan informasi, pada bukunya “The Condition of Learning” mengemukakan bahwa: Learning is change in human disposition or capacity, wich persists over a period time, and which is not simply ascribable to process a groeth.
Dalam bukunya Robert M. Gagne disebutkan bahwa : A very special kind of intellectual skill, of particular in probelem solving, is called a cognitive strategy. In term of modern learning theory, a cognitive strategy is a control process . An internal process by means of which thinking. Gagne mengemukakan delapan fase dalam satu tindakan belajar. Fase-fase itu merupakan kejadian-kejadian eksternal yang dapat distrukturkan oleh siswa atau guru. Setiap fase dipasangkan dengan suatu proses yang terjadi dalam pikiran siswa. Kejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan dibawah ini, yaitu:
1. Fase motivasi : siswa yang belajar harus diberi motivasi untuk memanggil informasi yang telah dipelajari sebelumnya.
2. Fase pengenalan : siswa harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial dari suatu kejadian instruksional, jika belajar akan terjadi.
3. Fase perolehan : apabila siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah siap untuk menerima pelajaran.
4. Fase retensi : informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui penggulangan kembali
5. Fase pemanggilan : pemanggilan dapat ditolong dengan memperhatikan kaitan-kaitan antara konsep khususnya antara pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya.
6. Fase generalisasi : biasanya informasi itu kurang nilainya, jika tidak dapat diterapkan diluar konteks di mana informasi itu dipelajari.
7. Fase penampilan : tingkah laku yang dapat diamati. Belajar terjadi apabila stimulus mempengaruhi individu sedemikan rupa sehingga performancenya berubah dari situasi sebelum belajar kepada situasi sesudah belajar.
8. Fase umpan balik : para siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.
bagaimana cara anda membuat sebuah multimedia berdasarkan prinsip koherensi tetapi tetap melihat karakteristik siwa yang berbeda-beda?
BalasHapusOrang belajar lebih baik ketika kata-kata, gambar, suara, video, animasi yang tidak perlu dan tidak relevan tidak digunakan. Nah, ini yang sering terjadi. Banyak sekali pengembang media mencantumkan sesuatu yang tidak perlu. Mungkin maksudnya untuk mempercantik tampilan, memperindah suasana atau menarik perhatian mata. Tapi, menurut Mayer, hal ini sebaiknya dihindari. Cantumkan saja apa yang perlu dan relevan dengan apa yang disajikan. Jangan macam-macam. Jadi dalam pembuatan media tidak perlu bertele-tele harus tepat, dan kata kata yang digunakan tidak memberatkan siswa
Hapusadakah prinsip yang mendasar dalam pemilihan media pembelajaran?
BalasHapusContoh media yg berdasar prinsip2 tsb!
BalasHapusSedikit menambahkan
BalasHapusSementara itu, Mulyani Sumantri menggaris bawahi tentang prinsip-prinsip dalam pemilihan media pembelajaran yang layak, yakni sebagai berikut:
a. Media harus berdasarkan pada tujuan pembelajaran dan bahan ajar yang akan disampaikan.
b. Media harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik.
c. Media harus disesuaikan dengan kemampuan guru, baik dari pengadaannya maupun penggunaannya.
d. Media harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi atau pada waktu, tempat, dan situasi yang tepat.